Rabu, 15 Mei 2013

Sejarah dan Perkembangan Kamera

Dasar-dasar fotografi mengembalikan kita sampai ke jaman Romawi Kuno, dimana sejarah kamera dimulai pada abad ke-17. Sejarah fotografi berkisar sekitar inovasi usaha untuk mereproduksi gambar.

Camera Obscura

Sejarah fotografi kuno dapat ditelusuri kembali ke perangkat yang dikenal sebagai camera obscura. Sebuah kamera obscura terdiri dari salah satu ruang gelap atau kotak dengan lubang kecil dari salah satu ujungnya. Dengan lubang yang cukup kecil, gambar terbalik dari apa yang ditangkap lubang diperbesar secara berlawanan di dinding kamera obscura.
Kemampuan kamera obscura untuk memproduksi gambar akan menjadi dasar untuk lensa kamera fotografi sebagai teknologi canggih. Dengan munculnya kamera obscura, kombinasi cahaya dan proses kimia juga memasuki dunia fotografi. Pada titik ini, sejarah fotografi modern dan kamera pun dimulai.


A Brief History of Camera


Penemu asal Prancis, Nicephore Niepce menghasilkan gambar permanen pertama dalam sejarah fotografi. Niepce menggunakan kamera obscura dan kertas dilapisi dengan bahan kimia fotosensitif (photosensitive chemicals). Waktu bukaan yang diperlukan untuk menangkap gambar bersejarah pertama adalah delapan jam.






Daguerreotype and Calotype Camera

Pada tahun 1829, Niepce bermitra dengan Louis Daguerre, setelah kematian Niepce di 1833, Daguerre melanjutkan penelitiannya. Melalui upaya yang terus-menerus, Daguerre berhasil mengurangi waktu exposure hanya setengah jam. Dia juga menemukan bahwa jika gambar direndam dalam garam akan membuat gambar permanen. Daguerre menamakan kembali penemuannya dengan kamera Obscura Daguerreotype dan menjual hak atas penemuannya tersebut kepada pemerintah Perancis pada tahun 1839.
"Daguerreomania" meledak di Eropa dan Amerika Serikat, dimana gambar permanen pada kaca dan logam menjadi populer. Namun mereproduksi gambar dengan Daguerreotype itu populer, model baru ini bisa membuat hanya satu gambar dan tidak banyak salinan.
Bahkan saat Daguerreotype menjadi populer, langkah berikutnya dalam sejarah kamera terus berlangsung. Pada tahun 1835, penemu asal Inggris, William Henry Fox Talbot menciptakan kertas negatif (negative paper) pertama. Sembilan tahun kemudia pada tahun 1844, penemu Talbot dipatenkan oleh Calotype. Meskipun gambar yang dihasilkan Daguerreotype mempunyai kualitas yang lebih baik daripada Calotype, penemuan Talbot bisa menghasilkan beberapa salinan dari negatif tunggal. 
Talbot juga dikenal dengan penerbitan koleksi foto berjudul The Pencil of Nature.

The Next Step in the History of Camera


Karena exposure time Calotype dan Dageurreotype masih panjang, exposure time lebih cepat adalah foto Collodion Frederick Scott Archer di tahun 1851. Proses Collodion mengurangi exposure time menjadi tiga detik saja. Untuk mengurangi waktu exposure time, gambar Collodion diolah pada saat pelat fotografi masih basah. Akibatnya, sejumlah besar peralatan pengenmbangan harus tersedia di lokasi. Pengolahan foto dengan pelat kering masih belum tersedia hingga tahun 1871. 





Antara tahun 1851-1871 sejumlah peristiwa terjadi dalam sejarah fotografi, antara lain :
  • 1861 : James Clerk-Maxwell menciptakan sistem warna fotografi pertama, menggunakan foto hitam dan putih dengan filter warna merah, hijau dan biru
  • 1861-1865 : Mathew Brady dan staf fotografinya membuat sampul dengan mengenai perang sipil Amerika.
  • 1877 : Foto Edward Muybridge tentang langkah kuda bergerak dengan cepat yang memperlihatkan kuku-kuku empat ekor kuda yang menjejak tanah sekaligus. Perputaran uang terus terjadi diantara pertumbuhan San Francisco yang kaya, yang bertaruh pada hasil.


Dry Plates and Box Camera

Pada tahun 1871, Richard Maddox menemukan gelatin dapat digunakan sebagai pengganti kaca untuk pelat fotografi. Langkah ini tidak hanya membuat pengembang lebih cepat, tetapi membuka jalan untuk film yang diproduksi secara massal.
George Eastman mengambil proses lebih lanjut dan film fleksibel pun diperkenalkan pada tahun 1884.
Pada tahun 1888, Eastman memperkenalkan kamera kotak, produk pertama dalam sejarah kamera yang tersedia untuk umum.
Sejak akhir abad 19, teknologi fotografi telah berkembang dengan langkah cepat.





Berikut ini adalah beberapa perkembangan dalam fotografi selama abad ke-20 :
  • 1907 : Film berwarna komersial pertama dikembangkan.
  • 1936 : Kodachrome, film berwarna berlapis-lapis dikembangkan. 
  • 1937 : Foto jurnalisme menjadi bagian penting dari pelaporan berita perang Dunia II


The Future of Camera

Sejarah kamera dan fotografi terus berlangsung dengan inovasi baru yang muncul secara teratur. Dengan kamera Digital, amatir dan fotografer, sekarang dapat mengambil beberapa gambar dan melihat hasilnya secara langsung.
Bahkan kamera dalam air sekarang menjadi pilihan terjangkau bagi masyarakat umum. Inovasi dan kebutuhan telah didorong oleh sejarah fotografi dan kamera itu sendiri. Dengan pengetahuan yang luas tentang teknik fotografi yang tersedia saat ini, inovasi lebih lanjut dapat diharapkan di massa depan. 

Selasa, 14 Mei 2013

Fungsi Payung pada Photography

Payung adalah alat yang dapat membantu anda yang serius dalam dunia fotografi. Secara khusus payung ini membantu anda dalam mendapatkan gambar yang profesional. Dengan menggunaka payung, cahaya akan menyebar sehingga memungkin kan anda untuk mencapai pencahayaan lembut dalam foto anda. Jadi, payung tidak membiarkan cahaya secara langsung untuk fokus pada objek, tetapi payung memantulkan cahaya dan menyebarkan nya. Hasilnya adalah gambar yang lebih jelas dengan bayangan lembut atau tidak ada bayangan sama sekali.




Pada dasarnya, ada dua warna payung yang dapat anda gunakan pada saat pemotretan.
 Yaitu, Hitam/ perak dan putih. Masing-masing memiliki fungsi yang berbeda. 







Payung putih biasanya digunakan untuk fotografi indoor. Untuk menggunakannya, anda harus menembak cahaya secara langsung melalui payung untuk mendapatkan gambar yang lembut. Ada juga teknik lain yang harus anda ingat. Untuk menghilangkan bayangan, anda harus menempatkan payung dalam posisi yang akan menempatkan bayangan dibelakang objek anda.


Payung hitam/ perak berfungsi untuk mencerahkan objek anda. Payung ini adalah kombinasi antara hitam pada bagian luar dan perak pada bagian dalam. Dengan jenis payung ini, cahaya langsung mengarah pada bagian perak, sehingga mencerahkan objek. Meskipun cahaya diarahkan pada objek, payung membantu untuk mendapatkan gambar yang bersih.

Untuk gambar lebih cerah, teknik terbaik adalah dengan menggunakan kombinasi antara payung putih dan hitam/ perak. Ini akan memungkinkan anda untuk menghilangkan bayangan dan membuat objek akan terlihat bercahaya. Tips yang baik adalah dengan menggunakan payung hitam/ perak sebagai sumber utama cahaya dan kemudian menggunakan payung putih untuk menyebarkan cahaya untuk mendapatkan gambar yang lebih lembut.

Sangat penting untuk dicatat, bagi anda yang ingin gambar-gambar hasil jepretannya terlihat lebih kreatif, hanya menggunakan flash built-in bukanlah ide yang baik. Alasannya adalah bahwa hal itu dapat menciptakan bayangan dan dapat membuat objek akan terlihat satu dimensi. Tetapi jika anda mencoba memindahkan sumber cahaya dari objek anda dan gunakan payung atau jenis lain dari diffuser, anda dapat menciptakan cahaya lembut dan mencapai foto yang lebih jelas.

Perlu diingat bahwa ukuran objek dan sumber cahaya mempengaruhi kerasnya bayangan. Dengan kata lain, cahaya keras adalah hasil dari objek kecil dan sumber cahaya kecil sementara lightsource besar akan memberikan cahaya lembut pada objek anda.

Jika anda senang menghemat energy, anda dapat  menggunakan LED dan neon. Alat ini adalah alternatif yang bagus untuk hot light dan sangat ideal untuk video HD dan digital stills.

Mengenal ISO pada kamera

Dalam fotografi digital sekarang ini ISO mengukur sensitifitas dari sensor kamera. Prinsip yang digunakan sama dengan apa yang berlaku pada kamera film, semakin rendah angka ISO maka semakin rendah juga tingkat ke sensitifan kamera terhadap cahaya, dan semakin sedikit noise yang dihasilkan. Pengaturan ISO tinggi biasanya digunakan untuk mendapatkan kecepatan rana yang cepat pada kondisi ruangan yang kekurangan cahaya atau gelap. 

Disamping ini adalah contoh foto menggunakan ISO 100-12800. Semakin tinggi ISO yang digunakana semakin banyak noise yang dihasilkan.


ISO 100 pada umumnya diterima sebagai ukuran ISO yang normal dan akan memberikan hasil yang memuaskan, sedikit noise. Kebanyakan orang lebih memilih untuk mengatur ISO pada kamera mereka dengan "Auto Mode", dimana kamera akan menentukan pengaturan ISO yang tepat berdasarkan kondisi pada saat pemotretan. Tetapi kebanyakan kamera juga memfasilitasi anda untuk menentukan pengaturan ISO anda sendiri. 

Ketika anda ingin memiliki kendali penuh pada kamera, dan lebih memilih pengaturan ISO secara manual, anda akan menjumpai bahwa itu akan berpengaruh terhadap Diafragma dan Shutter Speed dan pengaturan ketiganya harus diselaraskan untuk mendapatkan exposure yang tepat. Contoh : Jika anda ingin meninggikan ISO dari 100 ke 400, maka anda akan mendapatkan Shutter Speed yang lebih atau Diafragma yang lebih kecil.

Ketika memilih pengaturan ISO, alangkah baiknya menanyakan hal-hal dibawah ini pada diri anda sendiri :
  1. Cahaya. Apakah objek foto cukup cahaya?
  2. Noise.  Apakah anda ingin foto yang sedikit Noise atau banyak Noise?
  3. Tripod. Apakah anda sedang menggunakan tripod?
  4. Objek gerak. Apakah objek foto anda bergerak atau diam
Jika anda berada dalam kondisi kurang cahaya, dan memang menginginkan nuansa noise, tidak menggunakan tripod atau objek foto anda bergerak, sebaiknya anda mempertimbangkan untuk meninggikan ISO yang berdampak pada kecepatan Shutte Speed yang lebih tetapi masih terexpose dengan baik. Konsekuensi dari meninggikan ISO ini tentu foto anda akan lebih banyak Noise.

ISO merupakan aspek penting dalam fotografi digital dan untuk lebih memahaminya, anda harus menguasai bagaimana melakukan pengaturan pada kamera anda. Lakukan percobaan atau eksperimen dengan memotret menggunakan pengaturan ISO yang berbeda, lihat bagaimana dampak dari foto-foto anda.

Rabu, 08 Mei 2013

Mengenal Shutter Speed pada Kamera

Apa yang dimaksud dengan Shutter Speed?

Shutter Speed bagi kebanyaka orang Indonesia diartikan secara bahasa sebagai kecepatan rana, yaitu berapa lamanya shutter terbuka. Pada era fotografi film, Shutter Speed diartikan sebagai lamanya film di expose ke objek yang di foto. Deskripsi ini sama dengan era fotografi digital, dimana Shutter Speed merupakan berapa lamanya sensor melihat subyek yang akan diambil gambarnya.

Dibawah ini saya mencoba untuk mengulas Shutter Speed ke dalam berapa bagian, semoga mudah dimengerti oleh sobat-sobat yang baru mengenal fotografi.


  • Shutter Speed diukur dalam detik, atau pada kebanyakan kasus digunakan dalam sepersekian detik. Semakin besar penyebut atau pembagi, makan akan bertambah kecepatannya (contoh: 1/1000 jauh lebih cepat dibanding 1/30)

  • Jika anda menggunakan slow Shutter Speed (lebih rendah dari 1/60) anda akan membutuhkan sebuah tripod atau fitur-fitur seperti image stabilization (kamera & lensa baru biasanya memiliki fitur ini)

  • Pengaturan Shutter Speed yang tersedia di kamera anda biasanya berupa kelipatan. (contoh : 1/500, 1/250, 1/125, 1/60, 1/15, 1/8, dan seterusnya). Kelipatan pada pengaturan Shutter Speed mudah diingat.

  • Beberapa kamera digital terdapat fitur yang memudahkan anda untuk memotret dengan Shutter Speed yang sangat lambat. Tidak ada pembagian detik, tetapi diukur dengan satuan detik yang bulat. (contoh : 1 detik, 10 detik, 30 detik, dan seterusnya). Pengaturan ini digunakan pada ruang atau kondisi yang sangat gelap atau ketika anda memang sengaja membuat efek ketika merekam pergerakan dari sebuah objek. Beberapa kamera juga menyediakan fitur/ mode memotret dengan "B" (atau yang sering disebut dengan "BULB"). Mode Bulb memungkinkan seorang fotografer untuk tetap membuka Shutter selama yang dia mau.


untuk mendapatkan lampu kendaraan yang berbentuk garis maka gunakan Speed lambat. Pada speed lambat, anda harus membuat kamera tetap diam untuk menghindari blur. Anda dapat menggunakan tripod atau alat bantu lainnya.
Anda juga dapat menggunakan fitur "BULB" yaitu mengatur supaya sensor menangkap objek sama lamanya dengan seberapa lama kita menekan tombol Shutter.



  • Ketika mempertimbangkan setting Shutter yang akan digunakan untuk memotret, alangkah baiknya anda menanyakan pada diri anda sendiri, apakah objek potret itu bergerak? dan bagaimanakah anda ingin merekam pergerakan tersebut. Jika terdapat pergerakan pada objek foto, anda harus memutuskan apakah akan membekukan pergerakan atau memberi efek pergerakan dengan blur.

  • Untuk membekukan atau Freeze pergerakan objek pada sebuah foto, anda sebaiknya menggunakan Shutter Speed yang cepat dan untuk merekam pergerakan yang berbayang, anda sebaiknya menggunakan Shutter Speed yang lambat. Kecepatan yang anda pilih mungkin akan beragam, tergantung dari kecepatan subjek ketika pemotretan serta bagaimana bayangan blur yang anda inginkan.

  • Motion dari sebuah pergerakan tidak selalu jelek. Diantara fotografer pemula mungkin ada yang selalu memotret dengan menggunakan Shutter Speed kecepatan tinggi. Mereka terkadang tidak mengerti mengapa orang menyukai foto yang berbayang atau blur. Ada kalanya motion pergerakan itu tampak indah dan bagus. (contoh : ketika anda memotret sebuah air terjun dan ingin menonjolkan seberapa cepat air itu mengalir, atau ketika anda memotret sebuah balap mobil dan ingin memberikan nuansa kecepatan laju kendaraan). Dan anda juga akan membutuhkan tripod, jika tidak kemungkinan besar hasil foto anda akan rusak karena pergerakan kamera.

  • Focal Length & Shutter Speed. Hal lain yang harus dipertimbangkan dalam pengaturan Shutter Speed adalah penggunaan Focal Length lensa. Focal Length yang lebih panjang akan menyebabkan shake atau goncangan pada kamera, jadi untuk mengatasi hal itu, pilihlah Shutter Speed yang cepat (kecuali lensa anda memilik fitur image stabilization). Prinsip dasar penggunaan Focal Length pada lensa yang tidak memiliki fitu image stabilization adalah memilih Shutter Speed dengan pembagi yang lebih besar dari panjang Focal Length lensa. (contoh : anda memiliki lensa 50mm dan menggunakan Shutter Speed 1/60 masih bisa, tetapi jika anda menggunakan lensa 200mm setidaknya anda harus menggunakan kecepatan Shutter 1/250).

Peran Shutter Speed dalam Exposure 


Perlu diingat jika anda terlalu berkonsentrasi pada Shutter Speed dan tidak menghiraukan dua element lain dalam Exposure Triangle (Diafragma & Iso), percayalah itu bukan ide bagus. Ketika anda merubah Shutter Speed, maka otomatis anda harus merubah satu atau dua elemen tersebut sebagai kompensasinya. Contoh : jika anda mempercepat Shutter Speed sebanyak satu step (1/125 ke 1/250) itu berarti akan kehilangan setengah cahaya untuk masuk ke kamera, untuk menyimbangkan hal tersebut, anda butuh peningkatan Diafragma sebanyak 1 step (f16 ke f11), alternatif lain adalah dengan memilih ISO yang lebih tinggi ( dari 100 ke 400).

Selasa, 07 Mei 2013

Hunting foto Model with Fira.A.L

Nama Asli        : Fira A.L
Tanggal Lahir   : 9 july 1996
Tempat Lahir   : Jakarta
Zodiac             : Cancer


 



 


Mengenal Diafragma dalam Kamera

Apa itu Diafragma?

Diafragma adalah salah satu hal yang bisa membuat foto berdimensi. Berkat diafragma foto-foto ajaib bisa dihasilkan.

Untuk mempermudah, Diafragma adalah ukuran bukaan lensa saat foto diambil.

Bukaan? Ya, diafragma adalah sebuah lubang di dalam lensa. Lubang tempat masuknya cahaya ini bisa kita atur besarnya. Jika lubang semakin besar, maka cahaya yang masuk akan semakin banyak, begitu pula sebaliknya.

Jangan heran jika melihat angka-angka ini f/2.8, f/4, f/5.6, f/8, f/11, f/16, f/22, dan seterusnya. Ini adalah angka-angka yang mewakili besar kecilnya diafragma.

Yang perlu diingat adalah f/2.8 lebih besar dari f/16. Bergerak dari f/2.8 ke f/4 akan mengurangi cahaya satu f-stop. Urutan diafragma yang di highlight diatas adalah urutan standar dalam satu f-stop.

Yang sering membingungkan pemula adalah nilai angka yang kecil seperti f/2.8 adalah bukaan yang besar (dimana cahaya yang masuk lebih banyak). Ingat, f/2.8 adalah bukaan besar dan f/22 adalah bukaan kecil. Mungkin terlihat aneh, tapi lama kelamaan akan terbiasa. 


Diafragma dan Kedalam Ruang (Depth of Field)

Diafragma menentukan dimensi foto kita. Lebih tepatnya adalah pengaturan ke dalam ruang atau Depth of Field (DOF). Diafragma akan berpengaruh langsung terhadap DOF.

Diafragma yang besar (f/2.8) akan membuat DOF semakin tipis, diafragma ini sering digunakan untuk potrait photography. Karena dapat mengisolasi objek dengan background. Jika anda melihat foto potrait dengan background yang blur, maka dapat dipastikan sang fotografer menggunakan diafragma besar.

Lain halnya dengan foto landscape, fotografer memerlukan DOF yang lebar. Dari objek yang terdekat dengan kamera hingga kejauhan sebisa mungkin fokus. Inilah saatnya kita menggunakan diafragma yang kecil (f/22).

Untuk lebih memahami tentang difragma,hal yang paling utama dilakukan adalah melakukan eksperimen sendiri. Gunakan difragma secara kreatif, mungkin anda ingin mencoba memotret landscape dengan (f/2.8)? tidak masalah!!

Saya berharap sedikit pengenalan diafragma ini bisa bermanfaat. 

Salam Jepret.....